Pertolongan Dewa Dewi
October 12, 2016 – 10:24 am | 2 Comments

Ceramah Dhamma dr. Ratna Surya Widya, Vihara Pluit Dharmasukha. Oktober 2016
Agama Buddha mengenal alam dewa dewi. Tingkatannya ber beda-beda. Ada dewa alam rendah ada dewa alam yang lebih tinggi. Manusia bisa mendapatkan pertolongan dewa dewi.
Dalam …

Baca artikel pengantar dan Dengarkan Ceramah Selengkapnya »
Bhikkhuni Santini

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bhikkhuni Santini

Cornelis Wowor MA

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bp. Cornelis Wowor MA

Download Paritta

Silahkan mendengarkan dan mendownload Paritta-paritta Suci

dr. Krishnanda W. Mukti

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bp. dr. Krishnanda W. Mukti

Suhu Xian Xing

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bhiksuni Xian Xing

Home » dr. Krishnanda W. Mukti

Pelimpahan Jasa, Apakah Berguna?

Submitted by Untung on September 11, 2014 – 5:57 pm7 Comments

PelimpahaPelimpahan Jasa, Apakah Berguna?n jasa, apakah berguna? oleh Dr. Krishnanda Wijaya Mukti.  VPDS Agustus 2014

Pelimpahan jasa bagi sebagian Buddhis mungkin masih membingungkan. Apakah benar jasa atau kebajikan yang kita perbuat dapat dilimpahkan kepada leluhur atau makhluk lain?

Dr. Krishnanda Wijaya Mukti dalam ceramah Dhamma di Vihara Pluit Dharma Sukha pada tanggal  24 Agustus 2014 memberikan khotbah tentang pelimpahan jasa ini. Dibawah ini merupakan tulisan dari Romo Krishnanda yang dibagikan kepada umat yang hadir pada saat kebaktian tersebut.

PELIMPAHAN JASA

“Kewajiban Dharma untuk keluarga telah ditunjukkan, bagaimana puja dilakukan bagi orang yang telah meninggal, bagaimana para biksu diberi kekuatan, dan betapa besaar jasa kebajikan anda.” (Khp.7)

Buddha mengajarkan kepada Sigala Muda tentang sejumlah kewajiban, diantaranya bakti. Seorang anak harus menunjang dan membantu orangtua, memelihara kehormatan dan tradisi keluarga, menjaga warisan, mendedikasikan jasa kebajikan/menyembahyangkan orangtua yang telah meninggal (D.III, 189)

Ullambana dan Pattidana

Hari purnama di bulan tujuh imlek merupakan kesempatan untuk melaksanakan pelimpahan jasa, dikenal sebagai Ullambana/Yu-lan-p’en/Urabon/Cioko. Semula upacara ini ditujukan kepada Buddha dan Sanggha atas nama ketujuh generasi leluhur. Pada zaman dinasti Tang, Amoghawajra menyesuaikannya dengan tradisi pemujaan leluhur dari rakyat setempat, sehingga upacara selanjutnya ditujukan bagi arwah leluhur. Puja ini bukan pemujaan berhala sepanjang leluhur tidak dipertuhan atau menjadi tujuan penyembahan untuk menggantungkan nasib,

Menurut Ullambanapatra-sutra, Mogallana setelah mencapai kesempurnaan, mampu melihat ibunya almarhum menderita sebagai hantu yang kelaparan. Ia mencoba menolong, namun tidak berhasil. Atas petunjuk Buddha, dana dipersembahkan kepada Sanggha dan melimpahkan jasa kebajikan tersebut kepada ibunya, sehingga hantu kelaparan itu terlahir di alam surga. versi lain menurut kitab Peta-Vattu, hantu itu adalah ibu Sariputra dalam kehidupan lima kelahiran sebelumnya. (Pv. II, 2)

Brahmana Janussoni bertanya mengenai manfaat persembahan bagi mereka yang telah meninggal, apa mereka menikmatinya? jawab Buddha, ada yang menikmatinya, ada yang tidak. Mereka yang terlahir di alam-alam surga, neraka, binatang, tidak mendapat manfaatnya. Hanya di antara hantu (peta). ada yang membutuhkan persembahan dari keturunannya, Persembahan bagi orang yang sudah meninggal tidak akan sia-sia, karena hantu lain dapat ikut menikmati (A. V. 268-270)

Ada 4 jenis hantu, yaitu Paradattupajivika-peta memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang, Khupapipasika-peta selalu kelaparan dan kehausan, Nijjhamatanhika-peta selalu kepanasan, dan Kalakancika-peta sejenis Asura.

Tirokudda-sutta mengungkapkan bahwa di luar dinding, dipersimpangan jalan, di muka pintu, mereka pulang ke rumah. Di alam peta tidak ada pertanian,peternakan, perdagangan, pertukaran uang. Mereka mengharapkan persembahan makanan dan minuman, dan berdoa agar keturunannya panjang usia. seseorang yang memberi persembahan, mengingat kembali apa yang pernah mereka lakukan. “Semoga jasa-jasa ini melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal. semoga sanak keluarga berbahagia,” Bila persembahan diberikan kepada Sanggha, manfaat yang diperoleh jauh lebih besar (Khp. 7).

Pelimpahan jasa atau dana disebut pattidana, dapat dilakukan kapan saja. Paritta yang dibaca memuat doa agar jasa-jasa kebajikan terbagikan kepada para makhluk tanpa batas. Mengetahui pelimpahan dana ini, hendaknya mereka bersyukur dan dewa-dewa memberitakan.

Agama Berdimensi Sosial

Upacara Ullambana selalu diikuti pembagian derma, terutama berupa beras dan makanan bagi masyarakat. Sebelumnya, ada pembacaan Ksitigarbha-Sutra, Cin Kang Pau Chan (memuji Permata yang berharga dan pertobatan) dan Yan Khou (secara harfiah berarti “mulut api membara”, persembahan untuk menolong hantu kelaparan). Praktik ini telah berkembang menjadi suatu bentuk solidaritas sosial.

Ritual menghormati dan menghargai jasa leluhur, disertai dengan memberi persembahan. Kurban seperti ternak yang dibunuh, makanan, hasil bumi yang dilemparkan ke dalam api pemujaan, merupakan praktik takhayul/kebodohan (Bhuridatta jataka)

Seorang brahmana, Kutandanta, memohon petunjuk Buddha mengenai cara yang terbaik untuk melakukan ibadat persembahan kurban. Menurut tradisi, manusia melakukan ritual dengan menyembelih binatang-binatang untuk mengambil hati dewa agar doanya bisa terkabul. Buddha menolak kurban makhluk bernyawa.

Seorang raja menyelenggarakan upacara kurban demi kesejahteraan dan keselamatan negara. Hal-hal yang mengancam dan mengganggu kehidupan suatu negara adalah berbagai bentuk kejahatan yang timbul akibat kemiskinan dan kegagalan penegakan hukum. Karena itu, kurban yang tepat seharusnya adalah apa yang dibutuhkan oleh rakyat kecil, seperti makanan, bibit tanaman, bantuan modal, upah yang layak dan kesempatan bekerja. Jika orang-orang memiliki pekerjaan atau penghasilan, saling mencintai, hidup dengan hati yang lapang, maka negara pun tenteram dan damai. (D. I, 127-147).

Jelas, apa yang disebut kurban telah diredefinisikan. Buddha menukar kurban bagi dewa menjadi kurban bagi rakyat kecil. Upacara keagamaan dijadikan rasional sebagai ibadat sosial yang merealisasikan tanggung jawab untuk menghadirkan kesejahteraan.
Jakarta, 24 Agustus 2014
Krishnanda Wijaya Mukti/ Wihara Pluit Dharma Sukha

Demikianlah apa yang ditulis oleh Romo Krishnanda. Selanjutnya silakan anda mendengarkan secara langsung apa yang dibabarkan oleh beliau dengan mengklik tombol play dibawah ini, atau mengunduhnya dengan menggunakan username dan password yang telah diberikan secara gratis bagi semua anggota ceramahdhamma.com

Ceramah Dhamma Dr. Krishnanda Wijaya Mukti “Pelimpahan Jasa, Apakah berguna?”

Pengguna iOS Silakan streaming Ceramah Dhamma ‘Pelimpahan jasa, apakah berguna?’ Dr. Krishnanda Wijaya Mukti” 11,7 MB

Download Ceramah Dhamma ‘Pelimpahan jasa, apakah berguna?’ Dr. Krishnanda Wijaya Mukti 11.7 MB

Selamat mendengarkan. Semoga bermanfaat dan dapat menambah kebijaksanaan anda. Semoga anda berbahagia. Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu..Sadhu..Sadhu..

7 Comments »

Kami Mengharapkan Komentar Anda, Silakan Tulis Komentar Anda !

Silahkan Isi Komentar anda dibawah, atau trackback dari site anda. Tulislah Komentar Anda dengan Sopan dan tetap dalam topik Buddha Dhamma/Ceramah Dhamma.

Web ini memungkinkan Anda Menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan Gravatar anda, Silakan daftar di Gravatar. Komentar akan di-moderasi sebelum ditampilkan. Terima Kasih

*
Mohon tuliskan kata yang ada di bawah ini sebelum klik 'Kirim Komentar'. Terima kasih.
Anti-spam image