Pertolongan Dewa Dewi
October 12, 2016 – 10:24 am | 2 Comments

Ceramah Dhamma dr. Ratna Surya Widya, Vihara Pluit Dharmasukha. Oktober 2016
Agama Buddha mengenal alam dewa dewi. Tingkatannya ber beda-beda. Ada dewa alam rendah ada dewa alam yang lebih tinggi. Manusia bisa mendapatkan pertolongan dewa dewi.
Dalam …

Baca artikel pengantar dan Dengarkan Ceramah Selengkapnya »
Bhikkhuni Santini

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bhikkhuni Santini

Cornelis Wowor MA

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bp. Cornelis Wowor MA

Download Paritta

Silahkan mendengarkan dan mendownload Paritta-paritta Suci

dr. Krishnanda W. Mukti

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bp. dr. Krishnanda W. Mukti

Suhu Xian Xing

Kumpulan Ceramah Dhamma dari Bhiksuni Xian Xing

Home » Sri Pannavaro Mahathera

Hukum Paticcasamuppada

Submitted by Untung on September 2, 2014 – 11:47 am4 Comments

Hukum PaticcasamuppadaHukum Paticcasamuppada Oleh Bhante Sri Pannavaro  (2001)

Hukum Paticcasamuppada merupakan satu hukum yang sangat penting dalam agama Buddha selain hukum Karma. Hukum Paticcasamuppada atau hukum sebab musabab yang saling bergantungan dapat menerangkan kenapa kita menderita dan bagaimana sebenarnya proses menghentikan penderitaan itu terjadi.

Hukum Paticcasamuppada menjelaskan bahwa segala sesuatu mesti ada sebab nya dan akibat yang ditimbulkan akan menjadi sebab untuk akibat yang lain nya muncul. Itulah mengapa dinamakan hukum sebab musabab yang saling bergantungan.

Saya pernah mendengarkan uraian Bhante Sri Pannavaro mengenai hukum Paticcasamuppada ini lebih dari 10 tahun yang lalu lewat sebuah keping VCD. Penjelasan Bhante Sri Pannavaro  mengenai hukum sebab musabab yang saling bergantungan tersebut  memang tidak panjang lebar dan hanya intinya saja,  jadi tidak komplit namun menurut saya cukup mudah untuk di cerna oleh umat awam. Sudah lama saya merencanakan untuk menaikkan nya ke ceramahdhamma.com, namun apa daya, saya tidak berhasil menemukan kembali VCD tersebut. Mungkin sudah saya berikan kepada orang lain yang saya anggap waktu itu lebih memerlukannya.

Keinginan tersebut pernah saya masukkan dalam satu komentar di ceramahdhamma.com dan dibaca oleh bapak Felix Sim seorang anggota ceramahdhamma.com yang sudah bergabung sejak tahun 2011. Karma baik untuk kita semua, Bapak Felix Sim ternyata memiliki file video rekaman uraian Bhante Sri Pannavaro mengenai Hukum Paticcasamuppada ini. Terima kasih kepada pak Felix Sim atas pemberian sharing file hukum paticcasamuppada ini kepada kita semua.

Bhante Sri Pannavaro memberikan uraian ini pada saat proses renovasi Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Berdasarkan hal itu maka saya perkirakan uraian ini berlangsung sekitar tahun 2001. Bhante Sri Pannavaro masih kelihatan muda pada saat itu, anda dapat melihat dari foto diatas yang saya ambil dari video rekamannya.

Sebenarnya lewat video anda bisa lebih memahami uraian hukum Paticcasamuppada ini, karena lewat gambar akan lebih mudah memahami uraian Bhante Sri Pannavaro. Oleh karena itu saya berusaha untuk juga meng upload file video tersebut lewat Youtube. Anda bisa melihatnya di YOUTUBE

Bagi anda yang kesulitan mengakses youtube dan hanya bisa mendengarkan lewat file audio yang saya berikan di tengah dan di ulang bagian bawah postingan ini, maka saya berusaha untuk membantu lewat beberapa gambar yang bisa anda download lebih dahulu. Jadi sambil mendengarkan file audionya anda bisa sambil melihat gambarnya.

Pertama sekali yang perlu anda lihat adalah gambar dari Hukum Paticcasamuppada itu seperti dibawah ini. Saya berikan dalam ukuran file yang cukup besar 1254×1600 pixel (553 KB).

Anda bisa mendownloadnya dengan cara klik kanan gambar tersebut lalu pilih ‘Save Image as’.

Bhante Sri Pannavaro seperti yang telah saya jelaskan diatas, memang tidak menjelaskan semua bagian gambar dari ‘diagram’ hukum Paticcasamuppada, hanya point utama yaitu dua belas mata rantai hukum paticcasamuppada.

Bhante Sri Pannavaro memulai uraiannya  dari gambar yang ditengah tengah giagram paticcasamuppada berupa gambar seekor ayam, seekor ular dan seekor babi. Ketiga hewan tersebut melambangkan sifat dasar dari setiap manusia yaitu lobha, dosa dan moha.

Babi melambangkan sifat moha atau kebodohan batin kita. Ayam melambangkan sifat lobha atau keserakahan kita dan ular melambangkan sifat dosa atau kebencian, kemarahan, atau sifat penolakan kita.

Itulah sifat dasar kita yang menyebabkan kita terus menerus menderita dalam kehidupan yang berulang ulang.

Lobha Dosa Moha Moha atau kebodohan batin adalah ketidakmampuan kita untuk membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Moha membuat batin kita gelap atau bisa disebut juga Avijja (kegelapan batin).

Anda dapat melihat pada diagram hukum Paticcasamuppada disebelah kanan agak keatas dari lingkaran ayam, ular dan babi tersebut tulisan Avijja. Kegelapan batin inilah yang membuat sebab penderitaan kita.

Ceramah Dhamma Hukum Paticcasamuppada. Bhante Sri Pannavaro

Pengguna iOS Silakan streaming Ceramah Dhamma ‘Hukum Paticcasamuppada’ Bhante Sri Pannavaro” 9,14 MB

Download Ceramah Dhamma Hukum Paticcasamuppada Bhante Sri Pannavaro 9,14 MB

Dibawah ini saya berikan gambar gambar 12 mata rantai dari hukum Paticcasamuppada yang mungkin bisa dapat menolong anda untuk lebih memahami. Dimulai dari rantai pertama yaitu avijja.

AVIJJA digambarkan sebagai orang buta yang memegang tongkat dengan resiko masuk jurang.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Avijja akan mengakibatkan kita akan berbuat berbagai bentuk perbuatan baik atau buruk. Avijja akan mengakibatkan sankhara atau diartikan sebagai bentuk bentuk perbuatan,

SANKHARA digambarkan seperti pembuat periuk yang terus membuat periuk apapun hasilnya.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Sankhara, bentuk bentuk perbuatan (karma) yang dilakukan terus menerus akan menjadi sebab yang baru. Karena masih membuat karma karma baru maka setelah meninggal akan dilahirkan kembali. Fisiknya musnah namun akan ada kesadaran yang menyambung. Jadi Sankhara mengakibatkan munculnya kesadaran atau patisandhi vinnana.

PATISANDHI  VINNANA digambakan seperti seekor kera yang meloncat ke pohon lain yang masih banyak buahnya dari pohon yang sudah kehabisan buah.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Demikian seterusnya akan muncul sebab satu yang akan mengakibatkan hal lain. Gambar mata rantai yang lain saya lanjutkan dibawah. Untuk penjelasannya silakan anda mendengarkan secara langsung uraian Bhante Sri Pannavaro tentang hukum Paticcasamuppada atau hukum sebab akibat yang saling bergantungan. File audio nya bisa anda dengarkan dengan mengklik tombol play yang saya posting diatas dan dibawah setelah gambar gambar ilustrasi di bagian bawah postingan ini. Anda juga bisa mendownloadnya dengan menggunakan username dan password yang sudah  diberikan kepada semua anggota ceramahdhamma.com

NAMA dan RUPA, Batin dan jasmani. Karena ada kesadaran untuk lahir kembali maka mengakibatkan munculnya nama rupa yng digambarkan seperti sepasang manusia pria dan wanita.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Karena ada batin dan jasmani maka akan mengakibatkan adanya Salayatana atau enam landasan indria kita berupa mata, hidung, telinga, kulit, lidah dan pikiran.

SALAYANATA, enam landasan indria digambarkan seperti rumah yang mempunyai lima jendela dan satu pintu.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Karena adanya lima panca indra serta pikiran maka memungkinkan terjadinya kontak dengan segala sesuatu di sekeliling kita.

PHASSA (KONTAK) digambarkan seperti seorang wanita yang sedang menelepon dan sepasang kekasih yang sedang berpacaran.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Karena adanya kontak maka menimbulkan vedana atau perasaan. Bisa perasaan senang, tidak senang dan netral.

VEDANA atau perasaan digambarkan seperti seorang yang matanya tertusuk anak panah, karena perasaan sungguh akan membutakan kita.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Karena adanya perasaan senang, tidak senang maka akan menimbulkan tanha atau keinginan yang terus menerus untuk mendapatkan perasaan tersebut.

TANHA atau keinginan yang terus menerus tersebut digambarkan seperti seorang wanita yang sedang makan.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Karena adanya keinginan yang terus menerus maka akan menimbulkan kemelekatan atau Upadana.

UPADANA atau kemelekatan digambarkan seperti orang yang tidak pernah berhenti mengambil buah yang ada di pohon walaupun keranjangnya sudah penuh dengan buah bahkan sudah luber dan berserakan.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Kemelekatan akan menimbulkan terjadi nya pertumbuhan yang akan terus menerus atau bhava.

BHAVA atau terus bertumbuh digambarkan sebagai sepasang suami istri yang melekat satu sama lain.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Hukum PaticcasamuppadaHukum Paticcasamuppada

Bhava yang disebabkan karena adanya kemelekatan akan menimbulkan terjadinya kelahiran atau jati.

JATI atau kelahiran digambarkan sebagai ibu yang sedang melahirkan.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Dengan adanya kelahiran maka sudah dapat dipastikan akan menimbulkan sakit, tua dan kematian kembali atau Jara Marana.

JARA MARANA atau tua, sakit dan mati digambarkan sebagai berikut.

Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada
Hukum Paticcasamuppada Hukum Paticcasamuppada

Silahkan anda mendengarkan secara lengkap ceramah Bhante Sri Pannavaro mengenai hukum Paticcasamuppada atau hukum sebab akibat yang saling bergantungan.

Ceramah Dhamma Hukum Paticcasamuppada. Bhante Sri Pannavaro

Pengguna iOS Silakan streaming Ceramah Dhamma ‘Hukum Paticcasamuppada’ Bhante Sri Pannavaro” 9,14 MB

Download Ceramah Dhamma Hukum Paticcasamuppada Bhante Sri Pannavaro 9,14 MB

Selamat mendengarkan, semoga anda mendapatkan tambahan kebijaksanaan dari uraian mengenai hukum Paticcasamuppada ini. Semoga anda semua berbahagia. Sadhu Sadhu Sadhu.

4 Comments »

Kami Mengharapkan Komentar Anda, Silakan Tulis Komentar Anda !

Silahkan Isi Komentar anda dibawah, atau trackback dari site anda. Tulislah Komentar Anda dengan Sopan dan tetap dalam topik Buddha Dhamma/Ceramah Dhamma.

Web ini memungkinkan Anda Menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan Gravatar anda, Silakan daftar di Gravatar. Komentar akan di-moderasi sebelum ditampilkan. Terima Kasih

*
Mohon tuliskan kata yang ada di bawah ini sebelum klik 'Kirim Komentar'. Terima kasih.
Anti-spam image